Banyak orang akan menilai, bahwa karir
politik Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok telah tamat. Tak salah memang,
jika penilaian itu datang setelah melihat peristiwa yang menimpa perjalanan
politik Ahok, dari gelombang aksi berjilid-jilid sampai keputusan pengadilan
yang menjatuhkan vonis 2 (dua) tahun penjara.
Tuduhan menista agama yang ditiupkan lawan
politiknya, benar-benar telah mempengaruhi sentimen politik warga dan terbukti
mengalahkan Ahok di putaran kedua pada pilkada DKI belum lama ini. Hal itu
sekaligus membuktikan, kinerja Ahok yang begitu baik tidak mampu membangun
keberanian warga secara umum, untuk mengesampingkan issue agama.
Itulah dampak dari ucapan Basuki Tjahaya
Purnama alias Ahok ketika ia berpidato di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu 27
September 2016, yang mengutip salah satu ayat dari Kitab Suci Al Qur’an. Peristiwa
itu sebaiknya menjadi pelajaran bagi siapapun, khususnya para pelaku politik
agar lebih berhati-hati dalam mengucap kata.
Tak sedikit pelaku politik berdecak kagum,
dan menjadikan peristiwa politik yang dialami Ahok sebagai peristiwa yang
fenomenal, dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran yang sangat berharga. Politik
adalah politik, lawan sangat mungkin menjadi kawan, dan sebaliknya kawan hari
ini akan sangat mungkin besok menjadi lawan.
Itulah politik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar